Path: Top Research Report S1-Political_and_Social_Science Faculty_of_Social_and_Political_Sciences 2000

Uji dan pemantapan model pendampingan serta implementasi pelatihan bagi perajin industri rumah tangga kerajinan gerabah di Desa banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Research Report from JIPTUNMERPP / 2008-01-14 08:04:33
Oleh : Bambang Noorsetya, Drs. M Si., Faculty of Social and Political Sciences - Merdeka University Malang
Dibuat : 2000-04-01, dengan file

Keyword : Pelatihan, perajin, industri, kerajinan, gerabah, inkubator

Penelitian bermula dari realitas besarnya potensi industri rumah tangga di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) yang tak terangkau kebijakan industrialisasi nasional. Peran
industri Jenis ini di KTI sangat penting menyangga pesatnya pertumbuhan tenaga kerja, perbaikan kesejahteraan rakyat miskin. Di beberapa kantong desa miskin KTI industri rumah tangga menampung pekerja tertinggal antaranya para wanita pekerja rumahan, petani miskin. Sekalipun kontribusinya pada PDRB rendah, industri rumah tangga KTI berperan sebagai akselerator produktivitas modal rakyat miskin.
Menganalisis kegagalan berbagai skema pembinaan memecahkan persoalan kelompok industri kecil, pengalaman UNMER Malang melalui inkubator in-wall dan outwall, konsep pendampingan, pelatihan secara simultan signifikan mengokohkan industri rumah tangga. Metode ini merupakan transfer inkubator yang secara khusus didesain untuk mengukuhkan dan penguatan asosiasi usaha setempat. Dari penelitian ini diharapkan dihasilkan rumusan formula pendampingan yang lebih spesifik untuk pembinaan dan pengembangan industri rentan menuju terbentuknya gugus usaha lokal yang mengakar, kohesif dan terkelola otonom. Penelitian dilakukan selama dua tahun dua tahapan: tahun pertama berupa penelitian partisipatoris melalui diagnosa studi kasus kelompok usaha untuk menghasilkan formula pendampingan pelatihan yang diperlukan. Tahun kedua evaluasi pendampingan dan pelatihan, perbaikan modul pelatihan dan pelatihan mantap kelompok perajin dan pendamping lokal.
Adapun temuan utama dalam penelitian awal ini berkaitan dengan tingginya kegagalan program-program pembinaan terhadap industri rumah tangga di lokasi penelitian sebagai akibat tidak dikuasinya program dan proses implementasi vang acapkali mengabaikan komponen-komponen teknis operasional. Pembinaaan yang dilakukan acapkali kurang mampu menjangkau kelompok-kelompok perajin tertinggal. Demikian pula layanan-layanan pembinaan yang diberikan acapkali hanya mempedulikan eksistensi dari para pengusaha kecil kuat yang semestinya tak lagi pantas menerima kucuran pembinaan.
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat dalam membina industri-industri kecil dengan dua keunggulan utama: yaitu skill personal yang kuat dan lemahnya asosiasi kelompok menyebabkan pembinaan yang dilakukan tak membawa pengaruh signifikan pada perbaikan kesejahteraan perajin. Justru keberadaan LSM malah memicu polarisasi antar juragan dan perajin, bahkan temyata eksistensi juragan semakin kuat dan liar karena mendapat ruang bergerak untuk melakukan penetrasi kepada perajin yang sejak awal lemah.
Aliran nilai tambah produk yang dihasilkan oleh perajin temyata sebagian besar mengalir pada pemilik art shop. Hal ini sebagai akibat posisi dilematis perajin yang bisa dilihat dari berbagai Jenis transaksi dan sistem jual yang berlaku dan memperkukuh hubungan kekuasaan asimetris antar juragan dan perajin. Hubungan eksploitasi terselubung dalam sistem ijon misalnya adalah merupakan cara paling aman untuk menjamin subsistensi dari kelompok perajin yang dalam posisi paling sulit.
Skema kelembagaan pembinaan yang diusulkan dalam penelitian ini meliputi usaha untuk menghalau peran juragan yang lebih eksploitatif Inti proses pendampingan pada dasarnya adalah untuk memperkuat posisi dan pemberdayaan kekuatan para perajin hingga terjadi perbaikan posisi tawar yang signifikan

Deskripsi Alternatif :

Penelitian bermula dari realitas besarnya potensi industri rumah tangga di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) yang tak terangkau kebijakan industrialisasi nasional. Peran
industri Jenis ini di KTI sangat penting menyangga pesatnya pertumbuhan tenaga kerja, perbaikan kesejahteraan rakyat miskin. Di beberapa kantong desa miskin KTI industri rumah tangga menampung pekerja tertinggal antaranya para wanita pekerja rumahan, petani miskin. Sekalipun kontribusinya pada PDRB rendah, industri rumah tangga KTI berperan sebagai akselerator produktivitas modal rakyat miskin.
Menganalisis kegagalan berbagai skema pembinaan memecahkan persoalan kelompok industri kecil, pengalaman UNMER Malang melalui inkubator in-wall dan outwall, konsep pendampingan, pelatihan secara simultan signifikan mengokohkan industri rumah tangga. Metode ini merupakan transfer inkubator yang secara khusus didesain untuk mengukuhkan dan penguatan asosiasi usaha setempat. Dari penelitian ini diharapkan dihasilkan rumusan formula pendampingan yang lebih spesifik untuk pembinaan dan pengembangan industri rentan menuju terbentuknya gugus usaha lokal yang mengakar, kohesif dan terkelola otonom. Penelitian dilakukan selama dua tahun dua tahapan: tahun pertama berupa penelitian partisipatoris melalui diagnosa studi kasus kelompok usaha untuk menghasilkan formula pendampingan pelatihan yang diperlukan. Tahun kedua evaluasi pendampingan dan pelatihan, perbaikan modul pelatihan dan pelatihan mantap kelompok perajin dan pendamping lokal.
Adapun temuan utama dalam penelitian awal ini berkaitan dengan tingginya kegagalan program-program pembinaan terhadap industri rumah tangga di lokasi penelitian sebagai akibat tidak dikuasinya program dan proses implementasi vang acapkali mengabaikan komponen-komponen teknis operasional. Pembinaaan yang dilakukan acapkali kurang mampu menjangkau kelompok-kelompok perajin tertinggal. Demikian pula layanan-layanan pembinaan yang diberikan acapkali hanya mempedulikan eksistensi dari para pengusaha kecil kuat yang semestinya tak lagi pantas menerima kucuran pembinaan.
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat dalam membina industri-industri kecil dengan dua keunggulan utama: yaitu skill personal yang kuat dan lemahnya asosiasi kelompok menyebabkan pembinaan yang dilakukan tak membawa pengaruh signifikan pada perbaikan kesejahteraan perajin. Justru keberadaan LSM malah memicu polarisasi antar juragan dan perajin, bahkan temyata eksistensi juragan semakin kuat dan liar karena mendapat ruang bergerak untuk melakukan penetrasi kepada perajin yang sejak awal lemah.
Aliran nilai tambah produk yang dihasilkan oleh perajin temyata sebagian besar mengalir pada pemilik art shop. Hal ini sebagai akibat posisi dilematis perajin yang bisa dilihat dari berbagai Jenis transaksi dan sistem jual yang berlaku dan memperkukuh hubungan kekuasaan asimetris antar juragan dan perajin. Hubungan eksploitasi terselubung dalam sistem ijon misalnya adalah merupakan cara paling aman untuk menjamin subsistensi dari kelompok perajin yang dalam posisi paling sulit.
Skema kelembagaan pembinaan yang diusulkan dalam penelitian ini meliputi usaha untuk menghalau peran juragan yang lebih eksploitatif Inti proses pendampingan pada dasarnya adalah untuk memperkuat posisi dan pemberdayaan kekuatan para perajin hingga terjadi perbaikan posisi tawar yang signifikan

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUNMERPP
OrganisasiF
Nama KontakDra. Wiwik Supriyanti, SS
AlamatJl. Terusan Halimun 11 B
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0341-563504
Fax0341-563504
E-mail Administratorperpus@unmer.ac.id
E-mail CKOwsupriyanti@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • Editor: