Path: Top Journal Jurnal_Penelitian Edisi_Ilmu-Ilmu_Sosial 2002

Prospek pekerjaan nelayan di era otonomi daerah : studi deskriptif di kawasan pesisir pantai Malang Selatan

Jurnal Penelitian, Volume XIII, Nomor 1, Tahun 2002
Journal from JIPTUNMERPP / 2008-01-09 09:44:47
Oleh : Budhy Prianto, Research Institute - Merdeka University Malang
Dibuat : 2002-01-01, dengan file

Keyword : Nelayan, pemilik kapal, ABK, prospek, otonomi daerah

Digulirkannya otonomi daerah telah membawa pengaruh positif dati negatif dalam hampir semua aspek kehidupan di daerah. Fenomena ini juga dapat ditemukan dalam komunitas nelayan. Persoalan batas laut dan persoalan yang terkait dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD menjadi "necessary condition " bagi mengemukanya diskursus tentang kehidupan nelayan. Penelitian ini mengambil sampel di Malang Selatan, yaitu Desa Tambakrejo dan Desa Pujihado. Temuan penelitian menyangkut sepuluh persoalan penting yang dihadapi nelayan 1) Komunitas nelayan dapat dipilah menjadi dua, yaitu nelayan pemilik kapal dengan nelayan ABK; 2) Faktor usia sangat menentukan bagi nelayan ABK; 3) Tingkat pendidikan nelayan rendah; 4) Kesenjangan penghasilan antara musim panen ikan dengan masa paceklik; 5) Pola bidup hedonisme, 6) Kesenjangan ekonomi dan sosial antara nelayan pemilik kapal dengan ABK; 7) Status tanah pemukiman yang belum jelas. 8) Tingkat ketergantungan nelayan pemilik kapal terhadap pekejaan nelayan; 9) Keterampilan lain yang dimiliki sebagian ABK; 10) Pemahaman nelayan tentang otonomi daerah. Di era otonomi daerah prospek kehidupan nelayan sangat tergantung pada kebijakan Pemerintah Kabupaten. Jika paradigma comunity based yang digunakan, maka prospek pekerjaan nelayan akan lebih baik, tetapi jika paradigma capital atau technological based yang digunakan, maka akan terjadi sebaliknya

Deskripsi Alternatif :

Digulirkannya otonomi daerah telah membawa pengaruh positif dati negatif dalam hampir semua aspek kehidupan di daerah. Fenomena ini juga dapat ditemukan dalam komunitas nelayan. Persoalan batas laut dan persoalan yang terkait dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD menjadi "necessary condition " bagi mengemukanya diskursus tentang kehidupan nelayan. Penelitian ini mengambil sampel di Malang Selatan, yaitu Desa Tambakrejo dan Desa Pujihado. Temuan penelitian menyangkut sepuluh persoalan penting yang dihadapi nelayan 1) Komunitas nelayan dapat dipilah menjadi dua, yaitu nelayan pemilik kapal dengan nelayan ABK; 2) Faktor usia sangat menentukan bagi nelayan ABK; 3) Tingkat pendidikan nelayan rendah; 4) Kesenjangan penghasilan antara musim panen ikan dengan masa paceklik; 5) Pola bidup hedonisme, 6) Kesenjangan ekonomi dan sosial antara nelayan pemilik kapal dengan ABK; 7) Status tanah pemukiman yang belum jelas. 8) Tingkat ketergantungan nelayan pemilik kapal terhadap pekejaan nelayan; 9) Keterampilan lain yang dimiliki sebagian ABK; 10) Pemahaman nelayan tentang otonomi daerah. Di era otonomi daerah prospek kehidupan nelayan sangat tergantung pada kebijakan Pemerintah Kabupaten. Jika paradigma comunity based yang digunakan, maka prospek pekerjaan nelayan akan lebih baik, tetapi jika paradigma capital atau technological based yang digunakan, maka akan terjadi sebaliknya

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUNMERPP
OrganisasiR
Nama KontakDra. Wiwik Supriyanti, SS
AlamatJl. Terusan Halimun 11 B
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0341-563504
Fax0341-563504
E-mail Administratorperpus@unmer.ac.id
E-mail CKOwsupriyanti@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • Editor: