Path: Top » S3-Dissertations » Economics » 2001

Laba (rugi) selisih kurs sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi koefisien respon akuntansi: bukti empiris dari pasar modal Indonesia

PhD Theses from JIPTUNMERPP / 2012-09-27 15:39:01
Oleh : Grahita Chandrarin , Economics (Doctorate_Program) Merdeka University Malang
Dibuat : 2001-06-01, dengan file

Keyword : koefisien respon laba akuntansi, laba (rugi) selisih kurs, persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, prediktibilitas laba akuntansi, risiko beta dan struktur modal.
Subjek : EARNINGS

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh laba (rugi) selisih kurs terhadap koefisien respon laba akuntansi. Kemudian, peneliti menguji bagaimana respon investor terhadap tiga metode laba (rugi) selisih kurs. Metode tersebut meliputi: (1) metode yang mengakui laba (rugi) selisih kurs sebagai pendapatan (biaya); (2) metode yang mengkapitalisai sebagian; dan (3) metode yang mengkapitalisasi penuh laba rugi selisih kursnya. Peneliti juga menguji metode mana yang terbaik diantara ketiga metode tersebut. Tujuan lain adalah untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba akuntansi. Penelitian ini juga menguji kandungan informasi laba akuntansi yang dipublikasikan.
Sampel penelitian ini berjumlah 225 perusahaan (kategori manufaktur dan bukan manufaktur) yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini menggunakan data pooled cross-sectional (1993-1999) pada model persamaan pertama, dan data cross-sectional tahun1999 pada model kedua.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model empiris yang terdiri dari dua model. Model pertama digunakan untuk menguji hipotesis koefisien respon laba akuntansi, yaitu dengan meregres return tidak normal kumulatip dengan unexpected earnings, return tahunan, dan return tidak normal kumulatip jendela dua hari. Model pertama ini juga digunakan untuk mencari besaran koefisien respon laba akuntansi, yang akan digunakan sebagai variabel dependen pada model kedua. Model kedua digunakan untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga, yaitu dengan meregres koefisien respon laba akuntansi dengan laba (rugi) selisih kurs, persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, prediktibilitas laba akuntansi, risiko beta, struktur modal, ukuran perusahaan, pengaruh industri, return tahunan, dan return tidak normal jendela dua hari. Model penelitian seperti ini disebut juga dengan metodologi studi peristiwa jendela panjang.
Return tidak normal kumulatip (CAR) diukur dengan menggunakan model disesuaikan pasar (market adjusted model), dengan menggunakan metodologi studi peristiwa jendela pendek (lima hari). Unexpected earnings (UE) diukur dengan menggunakan model random walk. Return tahunan (RT) diukur dengan menggunakan rasio antara perubahan harga saham dengan harga tahun sebelumnya. Return tidak normal kumulatip jendela dua hari (CAR2W) diukur dengan menggunakan model disesuaikan pasar (market adjusted model), dengan metodologi studi peristiwa jendela pendek (dua hari).
Koefisien respon laba akuntansi (KRLA) diukur dengan melihat besaran koefisien regresi model pertama (α1). Laba (rugi) selisih kurs (LRSK) diukur dengan melihat besarnya laba (rugi) selisih kurs total yang dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan. Persistensi laba akuntansi (PSLA) diukur dengan melihat besaran koefisien regresi antara laba akuntansi tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba akuntansi (PTLA) diukur dengan menggunakan rasio antara nilai pasar terhadap nilai buku ekuitas. Prediktibilitas laba akuntansi (PDLA) diukur dengan melihat besaran variansi earnings shock dari laba akuntansi runtun waktu. Risiko beta (RB) diukur dengan menggunakan model disesuaikan pasar (market adjusted model), yaitu dengan melihat besaran koefisien regresi antara return individu dengan return pasar, pada tanggal laba akuntansi dipublikasikan. Struktur modal (SM) diukur dengan menggunakan rasio leverage. Ukuran perusahaan (UP) diukur berdasarkan nilai pasar ekuitas. Pengaruh industri (PI) diukur dengan menggunakan variabel dummy (satu untuk perusahaan manufaktur, dan nol untuk bukan manufaktur).
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Laba akuntansi yang terdapat pada laporan keuangan yang dipublikasikan mempunyai kandungan informasi.
2. Koefisien respon laba akuntansi dipengaruhi oleh laba (rugi) selisih kurs, persistensi laba akuntansi dan pengaruh industri.
3. Investor merespon tidak berbeda terhadap metode yang mengakui laba (rugi) selisih kurs sebagai pendapatan (biaya) maupun metode yang mengkapitalisasi (baik sebagian maupun penuh).
4. Metode yang mengakui laba (rugi) selisih kurs sebagai pendapatan (biaya) lebih baik dibandingkan dengan metode yang mengkapitalisasi (baik sebagian maupun penuh).
Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan mempunyai kontribusi yang berarti, khususnya bagi BAPEPAM dan dewan standar akuntansi keuangan IAI dalam mengevaluasi keberadaan peraturan BAPEPAM No. VIII G10 dan ISAK No. 4.

Deskripsi Alternatif :

The main objectives of this study are to investigate the effect of the transaction gains (losses) on the earnings response coefficients, and then, to investigate how the response differences of investors on three accounting methods of the transaction gains (losses). The first method, based on benchmark treatment of PSAK no. 10, treats transaction gains (losses) as revenue (expense). The second, based on alternative treatment of PSAK no.10 (ISAK no. 4), treats the gains (losses) as partially capitalized accounts. The third, based on BAPEPAM regulation no. VIII G10, treats them as fully-capitalized accounts. This study is also intended to determine the best one of those methods. This study has additional objectives, which are to provide evidence on factors affecting earnings response coefficients, and to investigate the information content of reported earnings.
This study uses the sample of 225 firms (manufacture and non-manufacture firms) listed in the Jakarta Stock Exchange. This study uses a pooled cross-sectional data of 225 firms during 1993-1999, and cross-sectional data of 1999.
The hypotheses are tested applying two empirical models. The first, cumulative abnormal returns are regressed on unexpected earnings, annual return, and cumulative abnormal returns with two-days window period. The second, earnings response coefficients are regressed on transaction gains (losses), earnings persistence, earnings growth, earnings predictability, beta risk, capital structure, firm size, industrial effect, annual return, and cumulative abnormal returns with two-days window period. Those are called long-windows event study methodology.
Cumulative abnormal returns (CAR) are measured using market-adjusted model with five-days window period. Unexpected earnings (UE) are measured using the random walks model. Annual returns (RT) are measured using the ratio between stock price changes and sock price of the previous period. Cumulative abnormal returns with two-days window period (CAR2W) are measured using market-adjusted model with two-days window period.
Earnings response coefficients (KRLA) are measured using the magnitude of coefficients on the first regression model. Transaction gains (losses), LRSK, are measured using annual data of total transaction gains (losses). Earnings persistence (PSLA) is measured using the magnitude of coefficients of time-series earnings regression. Earnings growth (PTLA) is measured using the ratio of market to book value of equity. Earnings predictability (PDLA) is measured using the variance of earnings shock of time-series earnings regression. Beta risk (RB) is measured using market-adjusted model. Capital structure (SM) is measured using leverage. Firm size (UP) is measured using market value of equity. Industrial effect (PI) is measured using dummy variables.
The results of this study are as follows.
1. There are information content of the reported earnings.
2. The effect of transaction gains (losses), earnings persistence, and industrial effect on earnings response coefficients are statistically significant.
3. Investors respond indifferently the firms applying different methods of transaction gains (losses).
4. The accounting method which to apply transaction gains (losses) as revenues (expenses) is better than those applying partial or full capitalization.
This study, hence, contribute to regulations of BAPEPAM and financial accounting standard board of IAI, especially to BAPEPAM regulation no. VIII G10 and ISAK no. 4 of financial accounting standard board, IAI.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUNMERPP
OrganisasiE
Nama KontakDra. Wiwik Supriyanti, SS
AlamatJl. Terusan Halimun 11 B
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0341-563504
Fax0341-563504
E-mail Administratorperpus@unmer.ac.id
E-mail CKOwsupriyanti@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • Promotor: Prof. Dr. Zaki Baridwan, M.Sc. , Ko-promotor: Prof. Dr. MasÂ’ud Machfoedz, M.B.A. Ko-promotor :
    Dr. Jogiyanto Hartono M., M.B.A.




    , Editor: Ambarwati