Path: Top Journal Jurnal_Arsitektur_Mintakat 2004

Morfologi dan tipologi kota Trenggalek

Jurnal Arsitektur Mitakat, volume 5, nomor 1, Maret 2004.
Journal from JIPTUNMERPP / 2008-01-09 09:44:52
Oleh : Rifan Handoko, Department_of_Architecture__Engineering_-_Merdeka_ (mintakat@unmer.ac.id)
Dibuat : 2004-03-01, dengan file

Keyword : Morfologi kota, tipologi kota, Trenggalek.

Perkembangan kota Trenggalek yang dikaji dengan tinjauan historis dari studi morfologi dan tipologi dikelompokkan ke dalam kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan kawasan permukiman.
Pusat pemerintahan pertama kali dibentuk pada abag 18 sebagai daerah kekuasaan Mataram dan terletak di Surodakan yang berupa Kadipaten. Pada pemerintahan kolonial Belanda banyak penambahan di sekitar alun-alun untuk fungsi dan Kadipaten menjadi kota Kawedanan dari Kabupaten Tulungagung. Pada masa kemerdekaan terjadi perluasan alun-alun yang memotong sumbu jalan utama dan perubahan fungsi.

Kawasan permukiman berciri tradisional dengan penggunaan toponim Jawa seperti Pandean, Dabangsan, sasoetan, Tamertan, Jambangan, Ngantru, Ngemplak dan Sawahan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dilakukan pembagian menurut tingkatan masyarakatnya yaitu : permukiman bangsawan dan pemerintah , permukiman Belanda, permukiman kaum Cina dan terakhir permukiman pribumi. Saat ini hal tersebut tidak tampak lagi karena dibumihanguskannya pusat kota pada tahun 1949 dan minoritasnya penduduk Cina.
Kawasan perdagangan dimulai dengan pasar tradisional yaitu pasar Pon yang terletak di jl. Panglima Sudirman Kelurahan Sumbergedong. Kegiatan perdagangan ini juga diwarnai oleh kedatangan etnis Cina yang bermukim disekitar pasar Pon. Sampai saat ini perekonomian kota relatif lembat dan cenderung tertarik ke arah Tulungagung.

Deskripsi Alternatif :

Perkembangan kota Trenggalek yang dikaji dengan tinjauan historis dari studi morfologi dan tipologi dikelompokkan ke dalam kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan kawasan permukiman.
Pusat pemerintahan pertama kali dibentuk pada abag 18 sebagai daerah kekuasaan Mataram dan terletak di Surodakan yang berupa Kadipaten. Pada pemerintahan kolonial Belanda banyak penambahan di sekitar alun-alun untuk fungsi dan Kadipaten menjadi kota Kawedanan dari Kabupaten Tulungagung. Pada masa kemerdekaan terjadi perluasan alun-alun yang memotong sumbu jalan utama dan perubahan fungsi.

Kawasan permukiman berciri tradisional dengan penggunaan toponim Jawa seperti Pandean, Dabangsan, sasoetan, Tamertan, Jambangan, Ngantru, Ngemplak dan Sawahan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dilakukan pembagian menurut tingkatan masyarakatnya yaitu : permukiman bangsawan dan pemerintah , permukiman Belanda, permukiman kaum Cina dan terakhir permukiman pribumi. Saat ini hal tersebut tidak tampak lagi karena dibumihanguskannya pusat kota pada tahun 1949 dan minoritasnya penduduk Cina.
Kawasan perdagangan dimulai dengan pasar tradisional yaitu pasar Pon yang terletak di jl. Panglima Sudirman Kelurahan Sumbergedong. Kegiatan perdagangan ini juga diwarnai oleh kedatangan etnis Cina yang bermukim disekitar pasar Pon. Sampai saat ini perekonomian kota relatif lembat dan cenderung tertarik ke arah Tulungagung.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUNMERPP
OrganisasiD
Nama KontakDra. Wiwik Supriyanti, SS
AlamatJl. Terusan Halimun 11 B
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0341-563504
Fax0341-563504
E-mail Administratorperpus@unmer.ac.id
E-mail CKOwsupriyanti@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • Editor: